Rabu, 23 Februari 2011

Penemuan perairan tertua di dunia

Perairan ditemui jauh di bawah permukaan tanah di Afrika Selatan. (science20.com)

Para penyelidik menemui perairan dalam di bawah tanah yang telah terisolasi selama jutaan tahun  di Witwatersrand Basin, Afrika Selatan. Luasnya dianggarkan mencapai seluas 400 kilometer.

Pada masa ditemui, penyelidik mendapati adanya gas neon larut di air yang berasal dari celah-celah berkedalaman hingga 3 kilometer dan tidak sesuai dengan profil gas neon biasa. 

Penyelidik juga menemui tingkat salinitas atau kadar garam yang tinggi dan beberapa tanda-tanda kimia unik.

Tanda-tanda tersebut sangat berbeza dengan zat cair ataupun gas yang muncul dari bawah kerak bumi lainnya.

“Tanda-tanda kimia tersebut tidak sesuai dengan air samudera atau air yang berada di tempat yang lebih tinggi di Witwatersrand Basin,” kata Barbara Sherwood Lollar, penyelidik dari University of Toronto, seperti terdapat dalam Science20, 21 Februari 2011.

Lollar menyebutkan, perairan dalam ini merupakan produk dari isolasi dan interaksi kimia yang ekstensif antara air dan batu dalam kurun waktu geologi yang sangat panjang.

“Tanda-tanda isotop neon jenis ini diproduksi dan terperangkap di dalam batu setidaknya selama 2 milian tahun lalu. Pada masa ini kita masih boleh menemuinya di sana,” kata Lollar.

Kajian lebih lanjut menunjukkan bahawa sebahagian dari neon tersebut menemui jalan ke luar dari bebatuan dan secara bertahap membaur, berakumulasi dengan cairan lain di celah-celah.

“Ini hanya boleh terjadi di perairan yang terpisah dengan permukaan selama tempoh waktu yang sangat lama,” ucapnya.

Penemuan ini juga mengungkapkan dimensi lain terhadap lingkungan hidup. Pada satu sudut, penyelidik menemui ekosistem mikrobial yang paling dalam di bumi. 

Di sana terdapat organisme yang berevolusi hingga boleh hidup tanpa sinar matahari atau tenaga kimia yang berasal dari bebatuan.

“Komuniti mikrobial ini memperluas konsep kami dilingkungan bahagian mana yang boleh didiami oleh makhluk hidup di bumi,” kata Lollar. 

“Perlu diingatkan mereka mempunyai kesamaan dengan organisme yang ditemui di bahagian lain di bumi, kami berasumsi bahawa mikroorganisme tersebut bukanlah berasal dari nenek moyang yang berbeza, namun dulu mereka datang dari tempat lain untuk tinggal di bebatuan tersebut,” ucapnya.

Yang pasti, kata Lollar, lamanya tempoh isolasi telah mempengaruhi evolusi mereka. 

“Di sinilah kami berusaha mengekspolrasi dengan penyelidikan lebih lanjut bersama rakan-rakan kami dari bidang mikrobiologi,” ucapnya.• VIVAnews

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Post